Memuji dengan Pamrih

Meski perilaku tersebut wajar, sebetulnya gaya merayu seperti itu kurang baik bagi anak. Selain tak bermanfaat, anak akan terbiasa mengeluarkan jurus rayuan gombal. “Padahal, di masa emas ini, anak harus selalu mendapat hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi pertumbuhan serta perkembangannya. Itu penting bagi masa depan si anak sendiri” Dampak buruk lainnya, anak seperti diajarkan untuk tidak berusaha jika ingin memperoleh sesuatu. “Maksudnya, dia jadi tak berusaha keras.” Anak akan berpikir, “Ah, gampang, rayuaja nanti juga diberi.”

Memang, memuji pada dasarnya tindakan terpuji. Tapi kalau dilakukan tidak tulus karena ada embel-embel di belakangnya, jadi tak baik. “Harusnya, pujian yang kita berikan pada seseorang dilandasi ketulusan hati, tanpa mengharap pamrih.” Dengan kata lain, kalau memang mau mengajar anak memuji, ajari ia memuji dengan tulus. “Asal kita menanamkannya dengan jelas, sederhana, dan konkret, anak akan mengerti, kok.” Apalagi jika contoh yang kita berikan sudah menjadi gaya hidup kita, “Pasti akan lebih mengena dan akan ditiru anak. Apa pun juga, kita adalah tokoh sentral anak.”

Akan lebih baik lagi jika kita mengajarkannya untuk langsung ke tujuan jika menghendaki sesuatu, tanpa harus disertai rayuan atau pujian kosong. “Dengan begitu, kita sekaligus mendidik anak berkomunikasi dengan efektif.” Caranya? Tak lain dengan memberi contoh yang baik, mengingatkan anak, menjelaskan padanya bagaimana cara berkomunikasi yang efektif. Jika ia ingin sesuatu, ajarkan ia berkata, “Bunda aku mau mainan ini. Boleh, tidak?'”